"Serambi"

"Mencoba Memberitahu Apa yang Kami Tahu"

Wednesday, August 11, 2004

Dahlia, Cantik Bunganya, Manis Umbinya

Keindahan bunga dahlia ? Banyak orang yang tidak meragukannya. Tapi, betulkah manis umbinya ?? Memang agak aneh pernyataan ini, karena rasanya jarang atau belum lazim kita dengar bahwa umbi dahlia dikonsumsi manusia. Dahlia (Dahlia pinnata Cav.) merupakan tanaman yang mudah ditemukan hampir di seluruh dunia. Menurut Walker (1954), penamaan tanaman ini mengikuti nama Profesor Andreas Dahl yang berperan penting dalam mengembangkan dan mempopulerkan tanaman tersebut. Tanaman dahlia banyak sekali jenisnya, namun 12 hingga 20 jenis berasal dari Guatemala dan Meksiko, dan 6 (enam) jenis diantaranya telah dikembangkan menjadi tanaman hias. Jenis tanaman dahlia yang terkenal (Dahlia pinnata) telah dikembangkan menjadi lebih dari 2000 macam untuk hortikulturnya. Bunga dahlia dapat berwarna merah, putih, kuning ungu, atau kombinasi dua warna (Encyclopedia Americana, 1995). Tanaman dahlia tumbuh dengan membentuk rumpun umbi akar pada bagian dasar dari batangnya. Perbanyakan tanaman ini dapat dilakukan dengan biji (benih), pemotongan (stek) dan pembagian umbi akar. Umbi akar adalah akar yang jaringannya berubah bentuk menjadi tebal dan berubah fungsinya sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan. Dari satu rumpun tanaman dahlia dapat dihasilkan umbi sebanyak 2 hingga 5 kg, tergantung pada varitas dan kesuburan tanaman tersebut. Umbi akar dahlia mengandung 80% air dan 20% padatan. Padatan ini tersusun oleh kira-kira 85% bahan penghasil gula yang disebut inulin dan bahan berselulosa (Fleming dan Grootwassink, 1979). Rupanya, inulin inilah yang menyebabkan umbi dahlia berasa “manis”. Inulin merupakan polimer fruktosa yang mengandung rantai ikatan linier b-2,1 dengan satu unit terminal glukosa di ujungnya dengan ikatan a-1,2 (Gambar 1). Menurut Kierstan (1978), perbandingan antara jumlah fruktosa dengan glukosa pada satu rantai inulin kurang lebih 80:20. Sekitar 30 unit fruktosa membentuk satu rantai inulin. Bobot molekul inulin beragam antara 3500-5500 gram/mol (Vandamme dan Derycke, 1983). Dengan demikian, jika rantai suatu molekul inulin dihidrolisis akan menghasilkan sirup fruktosa dengan campuran sedikit glukosa. Dengan sifat tersebut di atas, maka umbi dahlia berpotensi untuk menghasilkan sirup fruktosa yang selama ini pada umumnya diproduksi dari bahan berpati melalui proses hidrolisis enzimatis atau kimiawi. Hidrolisis secara enzimatis pada umumnya lebih menguntungkan karena mutu hasil akhir produknya akan lebih baik; hanya sayangnya Indonesia masih tergantung pada impor untuk pemenuhan enzimnya. Untuk dapat menjadi fruktosa, pati setidaknya memerlukan tiga jenis enzim, yaitu alpha-amylase untuk memecah pati menjadi campuran dekstrin, amyloglucosidase untuk memecah dekstrin menjadi glukosa dan isomerase untuk mengkonversi glukosa menjadi fruktosa. Sedangkan untuk memecah inulin menjadi fruktosa hanya diperlukan satu jenis enzim yaitu inulinase. Keuntungan lainnya adalah rendemen fruktosa yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan dengan pati, karena inulin secara dominan tersusun oleh fruktosa. Dengan demikian, penggunaan inulin untuk produksi fruktosa akan jauh lebih efisien dan ekonomis. Inulin bersifat sedikit larut dalam air dingin, tetapi dapat larut dalam air bersuhu 50-60oC. Inulin dahlia dapat diisolasi dari sumbernya (umbi dahlia) menggunakan pelarut etanol, kemudian dikeringkan dan digiling ( Rahayuningsih et. al., 1997). Selain kegunaannya untuk memproduksi fruktosa, beberapa publikasi menyebutkan keunggulan inulin lainnya terutama untuk kesehatan. Hasil studi Dr. William Klevos yang berkaitan dengan penggunaan inulin dahlia dalam pengendalian berat badan serta pengobatan hypoglycemia menyebutkan bahwa inulin dahlia sangat efektif untuk menekan nafsu makan dan untuk mengendalikan kadar glukosa dalam darah. Bagi olahragawan yang mengandalkan bodybuilding, inulin dahlia dapat mengurangi pemecahan jaringan otot dan dapat meningkatkan massa otot. Inulin dahlia disebutkan juga dapat memfasilitasi metabolisme gula dalam proses glikolisis. Disamping itu, inulin dahlia mampu menyediakan energi dalam jangka panjang (hingga mencapai 10 jam), sehingga hal ini cocok dikonsumsi bagi orang yang berpuasa (www.greenalive.com.htm). Nah, setelah mengetahui kelebihan inulin dahlia, ada yang mau mencoba ?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home